Rabu, 06 Januari 2016

MUNCULNYA BAHASA PEMERSATU ARAB

MUNCULNYA BAHASA PEMERSATU ARAB


DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
“Sosiopsikolinguistic”

OLEH :
FERKI AHMAD MARLION
21150120000020


DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Ahmad Sayuti Nasution , MA.
Dr.Torkhis Lubis, Lc. DEL


PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSSITAS ISLAM NEGERI
 SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015




BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam interaksi sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi pokok untuk menyampaikan sebuah pesan antara komunikator dan komunikan. Diantara beragam bahasa di dunia, terdapat bahasa Arab yang dalam sejarah tercatat sebagai rumpun bahasa Semit yang dinisbatkan pada Syam putra Nabi Nuh As. Ada dua klasifikasi pada bahasa Arab terdahulu, yaitu: pertama, Al-Arabiyat al-baidah yang dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqusy (bahasa Arab prasasti), ke dua, Al-Arabiyat al-baqiyah yaitu bahasa suasana formal seperti pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme.
Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun bahasa Semit, dipergunakan oleh suku Arab yang tinggal di Semenanjung Jazirah Arab. Sejarah awal perkembangannya tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, para sejarawan dapat memperkirakan bahwa sekitar satu setengah abad atau dua abad sebelum kedatangan Islam, telah ditemukan beberapa prasasti yang di dalamnya tertulis karya-karya sastra berbentuk syair (puisi) dan sedikit berbentuk prosa.
Sebelum diturunkannya Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa dialek-dialek, yangmana masyarakat setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam bertutur kata (karena jaman dahulu belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara beberapa dialek yang muncul pada masa itu, terdapat satu dialek yang paling dominan dan berpengaruh besar terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban masyarakat Jazirah Arab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain disebut dialek Quraisy. Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk dari bahasa Arab Fusha yang Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy ini.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits juga memberikan pengaruh terhadap kemajuan masyarakat Arab diberbagai bidang, seperti agama, pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya.
Dalam interaksi sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi pokok untuk menyampaikan sebuah pesan antara komunikator dan komunikan. Diantara beragam bahasa di dunia, terdapat bahasa Arab yang dalam sejarah tercatat sebagai rumpun bahasa Semit yang dinisbatkan pada Syam putra Nabi Nuh As. Ada dua klasifikasi pada bahasa Arab terdahulu, yaitu: pertama, Al-Arabiyat al-baidah yang dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqusy (bahasa Arab prasasti), ke dua, Al-Arabiyat al-baqiyah yaitu bahasa suasana formal seperti pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme.
Sebelum diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits, keragaman dialek pada masyarakat Arab menimbulkan kesulitan berkomunikasi ketika berkumpul dengan masyarakat dari berbagai suku. Namun keberadaan dominasi dialek Quraisy menjadi solusi atas permasalahan itu. Karena al-Qurán dan al-hadits diturunkan dengan bahasa Arab Quraisy sehingga keduanya berfungsi sebagai allughoh al musytarikah (lingua franca) bahasa pemersatu.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits juga memberikan pengaruh terhadap kemajuan masyarakat Arab diberbagai bidang, seperti agama, pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Sekilas tentang bangsa Arab
2.      Asal-Usul Bahasa Arab
3.      Bahasa Arab Pra Islam
4.      Pembentukan Bahasa Arab
5.      Bahasa al-Qurán dan Hadits
6.      Pengaruh Bahasa al-Qurán dan al-Hadits di Jazirah Arab











BAB II
PEMBAHASAN

1.      Sekilas tentang bangsa Arab
Berbicara tentang bahasa, maka tidak lepas dari bangsa yang menuturkannya. Menurut sejarah, bahwa bangsa Arab seperti halnya bangsa Aria, Pinikiah, Ibrani, Yaman, Babilonia dan bangsa-bangsa yang terdapat di sekitarnya itu berasal dari satu bangsa yang disebut bangsa al-Samaniyyun.[1]Sedangkan bangsa Semit (al-Samaniyyun) adalah bangsa yang berasal dari garis keturunan Nabi Nuh yang bernama Sam Ibn Nuh.Yang kemudian dalam perkembangannya melahirkan berbagai bangsa dan bahasa, di antaranya bangsa Akkadia, Kan'an, Aram, Arab dan Ethopiah. Dari sini dapat dipahami bahwa sebenarnya bahasa-bahasa yang telah dikemukakan itu berasal dari satu bahasa yang dituturkan dari satu keturunan .[2]
Bangsa Arab (Bahasa Arab: عرب 'Arab) adalah salah satu dari suku bangsaSemitik yang mayoritas adalah penduduk di Dunia Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika Utara, serta sebagian minoritas penduduk di Iran, Turki serta komunitas diaspora lainnya di berbagai negara. Seseorang umumnya dianggap sebagai Arab dilihat dari latar-belakang mereka, baik secara etnis, bahasa, maupun budayanya.Secara politis, orang Arab adalah mereka yang berbahasa ibuArab dan berayah keturunan Arab pula.Selain di Iran dan Turki, juga terdapat sejumlah besar diaspora Arab di Amerika dan Eropa.
Berdasarkan tradisi Ibrahim, bangsa Arab dihubungkan dengan Isma'il; sedangkan beberapa penulis sejarah dan nasab beranggapan bahwa bangsa Arab berasal dari Ya'rab, yang mana keduanya tidak dapat dipastikan dari perspektif sejarah. Dalam sejarah, penyebutan paling awal istilah Arab ditemukan pada manuskrip Assyria dari abad ke-9 SM; yang menurut pendapat kebanyakan peneliti, dalam bahasa Assyria dan beberapa bahasa Semit lainnya artinya adalah "orang-orang gurun (badui)".
Menurut bahasa, ʻArab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal.[3]
2.      Asal-Usul Bahasa Arab
Jika kita berbicara tentang asal usul bahasa maka itu tidak lepas dari bangsa yang menuturkannya. Asal usul bahasa Arab misalnya itu berasal dari penduduk asli Jazirah Arab dan merupakan salah satu rumpun bahasa Semit yang tumbuh dan berkembang jauh sebelum agama Islam datang dan mampu bertahan hingga kini seperti halnya bahasa Ibrani.[4] Kemudian dalam perkembangannya melahirkan berbagai bahasa di antaranya bahasa Akadiya, Kan'an Aramia. Arab dan Ethopia.[5]
Bahasa Arab menurut para linguistik berasal dari ras manusia dan rumpun bangsa yang mempunyai peran besar dalam sejarah peradaban kuno yakni bahasa Semit kemudian keturunan mereka berpindah tempat meninggalkan tanah airnya dan menetap di lembah sungai Tigris dan Euphart sehingga membentuk rumpun bahasa dan bangsa baru Termasuk di dalamnya bahasa Ibrani.[6]
Wafi dalam bukunya (2004 : 78) menuturkan bahwasannya bahasa Arab lahir bersamaan dengan bahasa Yaman Kuno dan bahasa HabsyahSamiyah, yangmana merupakan satu rumpun bahasa Samiyah Janubiyah. Tetapi ada sebagian sejarawan yang menuturkan rumpun bahasanya bukan Samiyah Janubiyah melainkan Samiyah Syamaliyah. Sebagaimana dalam Hitti (2014 : 109-110), yang disebut bahasa Arab adalah bahasa Himyar-Saba, juga dialek Hijaz sebelah utara, tetapi karena yang terakhir menjadi bahasa agama Islam dan sepenuhnya menggantikan dialek Yaman sebelah selatan, maka ia menjadi bahasa Arab par excellence. Karena itu, ketika kita menyebut orang-orang Arab dan bahasa Arab, maka yang kita maksudkan adalah orang-orang Arab Utara dan bahasa Al-Qurán .
Bahasa Arab merupakan rumpun bahasa Semit dan mempunyai anggota penutur yang terbanyak. Bangsa Semit berikut bahasanya dinisbatkan pada putra Nabi Nuh yang bernama Sam ibn Nuh. Garis keturunan Sam inilah yang melahirkan berbagai bangsa dan bahasa, di antaranya ‘Akkadiyyah(abad -20 SM), Aramiyah (abad -9 SM)Kan‘aniyah,Arab (mulai abad -1 SM “Baidah” dan -5 M “Baqiyah”) dan  lainnya. (Wafi : 2004 : 78-79).
Wafi  (2004 : 79) menyebutkan bahwasannya bahasa Arab Baidah masih berupa dialek-dialek yang dituturkan oleh mayoritas masyarakat Arab Kuno di kawasan Utara dekat dengan perbatasan Aramiyah, Madain Shalih dan Hijaz. Sehingga Masyarakat di kawasan ini, dalam berbahasa sangat dipengaruhi oleh bahasa Aramiyah.  Bahasa Arab Baidah ini dipakai lama sebelum masa Islam. Hanya sedikit Nuqusy yang masih digunakan dalam perkembangan bahasa Arab selanjutnya atau Baqiyah, sehingga bahasa ini juga dinamai dengan bahasa Arab Nuqusy.
Seorang sarjana ahli bahasa yang terkenal, A. L. Schioser (wafat tahun 1781 M) menjelaskan bahasa Arab adalah termasuk rumpun bahasa semit dan menjelan abad ketiga Masehi, bahasa Arab berkembang menjadi bahasa yang sempurna.[7]
Melacak asal usul bahasa Arab, pertumbuhan dan pembagianya secara jelas dapat dilihat bahwa bahasa Arab mengalami kemunduran dengan banyaknya bahasa Arab (dialek) yang telah punah dan hanya dapat diketahui melalui pahatan-pahatan atau lebih dikenal dengan al-Arabiyah al-Nuqusy dalam tulisan ini dapat juga dilihat kemajuan bahasa Arab dalam prosesnya yang cemerlang hingga melahirkan bahasa Arab yang kokoh dan memiliki multi fungsi,  setelah ditakdirkan menjadi bahasa al-Qur'an.[8]
Dalam Tulisan ini penulis akan menelusuri lorong-lorong tentang bagaimana asal usul bahasa Arab dan bagaimana proses pertumbuhannya dan pembagiannya hingga menjadi bahasa Arab resmi.
Sementara bahasa Arab Baqiyah, berdasarkan Wafi  (2004 : 79), adalah bahasa Arab yang masih digunakan hingga saat ini sebagai bahasa Arab Induk di bidang sastra,  penulisan, dan pembukuan. Bahasa ini menyebar di kawasan Nejed dan Hijaz, yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru Arab dengan penggunaan dialek masing-masing daerah.
3.      Bahasa Arab Pra Islam
Disinggung dalam Wafi  (2004 : 86), bahwasannya bahasa Arab diklasifikan oleh para penuturnyae sejak masa lampau, berdasarkan suku-suku, keadaan goegrafis, lingkungan sosial dan cara pandang masyarakat serta keragaman budaya, dan lain-lain. Peng-klasan tersebut melahirkan beragam dialek yang masing-masing memiliki perbedaan dalam segi fonetik, sintak, gramatikal maupun kosa kata yang digunakan.
Keberagaman dialek ini digunakan masyarakat Arab dalam komunikasi ketika berinteraksi dengan sesama, juga dalam transaksi jual-beli, Ibadah Haji dan strategi peperangan. Namun dari banyak dialek yang ada pada masa itu, terdapat satu dialek yang berpengaruh lebih luas di kalangan masyarakat Arab. Dialek ini dapat dimengerti dan dipahami oleh berbagai klas-klas tersebut di atas. Masyarakat Arab menamai dialek ini dengan Quraisy yang dinisbatkan kepada suku Quraisy “suku ternama di Jazirah Arab.”
Wafi (2004 : 87) merincikan beberapa faktor pendorong dominasi dialek Quraisy atas masyarakat Arab. Faktor-faktor tersebut di antaranya:
1.      Faktor keagamaan, kaum Quraisy sering mengunjungi Baitullah, untuk melaksanakan urusan dan peribadatannya. Dalam pandangan mayoritas suku bangsa Arab dimasa Jahiliyah, Baitullah merupakan tempat yang disucikan, dimana banyak orang yang berkunjung kesana untuk melaksanakan manasik haji, dan adapula yang datang untuk menyembah patung – patung dan membawakan sesajian kurban. Bagi kaum Quraisy hal itu merupakan pengaruh keagamaan yang melekat pada suku bangsa Arab.
2.      Kekuasaan ekonomi, digenggaman orang – orang Quraisy terdapat sejumlah pandangan yang besar, yaitu bagi mereka yang sering berpindah – pindah tempat berdagang diberbagai wilayah jazirah Arab, dari Syam bagian utara menuju Yaman Selatan. Sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam surah Quraisy : “لإيلاف قريش إيلافهم رحلة الشتاء والصيف... الخ. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, maka kendali kekayaan di negara Arab di pegang oleh kaum Quraisy.
3.      Pengaruh politik, bagi orang – orang Quraisy telah menjadi suatu kenyataan bahwa keutamaan pengaruh agama dan ekonomi serta keutamaan kedudukan negaranya bisa menjadi suatu pengaruh politik yang cukup kuat diantara negara – negara Arab lainnya pada masa Jahiliyah.
4.      Dialek Quraisy merupakan dialek Arab terluas yang menjadi suatu aset kekayaan bangsa. Ia merupakan dialek Arab tertinggi dari segi uslubnya, serta menjadi dialek yang paling mampu untuk mengutarakan seni kata yang berbeda. Hal itu disebabkan oleh keutamaan yang telah ditentukan bagi para penuturnya, baik dari segi sarana kebudayaan maupun kesempatan yang banyak untuk memperoleh kesan khusus dengan dialek Arab yang berbeda – beda.
4.      Pembentukan Bahasa Arab
Pada zaman jahiliyah bahasa arab fusha telah terbentuk dengan adanya festival syair-syair yang diadakan di pasar ukaz, zul majah dan majanah. Festival ini menjadi kegiatan yang penting pada zaman jahiliyah untuk terbentuknya standarisasi bahasa arab fusha. Dengan adanya festival yang diadakan dipasar-pasar telah menjadi medium bagi para penyair untuk mengungkapkan segala macam keluh rasa baik yang berupa permasalahan-permasalahan yang terjadi  diantar kabilah ataupun pujian bagi para ketua kabilah. Kegiatan ini menjadikan bahasa arab mempunyai nilai yang sangat penting karena menjadi bahasa perantara antar kabilah atau yang sering disebut lingua fanca.
Bahasa arab selain sebagai lingua franca juga digunakan untuk membuat puisi, dimana puisi pada zaman ini mempunyai kedudukan tinggi dan pengaruh yang kuat bagi setiap suku. Seorang penyair dianggap sebagai juru bicara dalam suatu kabilah yang dapat membuat sukunya hidup damai, sejahtera dan dapat membuat sukunya memenangkan peperangan dikarenakan isi puisi yang dibuatnya.[9] Dalam konteks ini bahasa arab yang termaktub dalam syair-syair bisa dikatakan sebagai alat pemersatu dan sebagai senjata guna melemahkan atau menghancurkan musuh.[10] Pada masa awal islam terjadi pergeseran kajian, bahasa arab yang dulu identik denga syair-syair mulai luntur dengan turunya al-qur’an. Masyarakat arab mulai mengkaji bahasa yang digunakan al-qur’an yang di bawa oleh Muhammad. Dengan turunnya al-qur’an yang berbahasa arab standar menjadikan bahasa  sangat penting dan menjadi perhatian dikalangan masyarakat arab bukan hanya tutur bahasnya yang indah akantetapi dengan adanya agama baru yang muncul saat itu. Datangnya islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin menjadi peristiwa terpenting dalam sejarah perkembangan bahasa arab.
Setelah nabi mendakwahkan islam secara terang-terangan al-qur’an yang berbahasa arab menggemparkan seluruh kalangan bangsa arab khususnya kafir quraisy makah. Nabi Muhammad sebagai penerima al-qur’an dianggap sebagai penyair, penyihir dan dukun oleh orang-orang arab, akan tetapi tidak sedikit dari mereka yang menerima dan memeluk agama baru yang benama islam. Al-qur’an yang diturunkan dalam tujuh huruf yang mempresentasikan bahasa pada saat itu menjadikan bahasa arab mempunyai kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar pada tatanan masyarakat. Al-qur’an yang dibawa Muhammad menjadikan beliau pada tingkat yang jauh berbeda dari Fuhul dan Rijal Balaghah (jagoan-jagoan bahasa) dikarenakan bahasanya yang sangat indah berbeda dengan bahasa-bahasa yang digunakan umumnya penyair arab pada saat itu. Pada tingkatan inilah bangsa arab mulai munyusun format bahasa arab menjadi bahasa yang lebih sempurna.[11]
Dalam perkembangan bahasa Semit, muncullah bangsa Akkadia sebagai rumpun bangsa Semit dianggap sebagai bangsa dan bahasa yang tertua dari rumpun Semit yang terditeksi dalam catatan sejarah. Bangsa ini mendiami wilayah lembah sungai Tigris Euphrat yang lebih dikenal dengan Mesopotamia kira-kira 3000 tahun SM. Kata Akkadia berasal dari nama Ibukota Akkad. Bangsa Akkadia biasa pula disebut dengan bangsa Babilonia dan Assuriya kedua bangsa tersebut mempergunakan bahasa Akkadia.
Bahasa Aramiyah dan bahasa Kan'aniyah dipergunakan oleh bangsa Finikiyah dan Arabiyyah dan selanjutnya muncul pula bahasa Arab, bahasa Yaman kuno, dan bahasa Habsyi. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika terlihat adanya persamaan-persamaan dalam bahasa mereka. Hanya saja menurut para peneliti,] sangat sulit untuk dibuktikan karena kita tidak mengetahui bahasa-bahasa yang telah disebutkan sebelumnya kecuali terbatas pada bahasa Arab saja.
Di antara sekian rumpun bahasa Semit yang telah dikemukakan bahwa semuanya telah punah ditelan oleh dinamika perjalanan umat manusia yang telah melewati ribuan tahun yang tersisa hanyalah bahasa Arab yang sekaligus memberi pengaruh yang cukup besar dalam sejarah peradaban umat manusia, terutama disaat memasuki abad VI Masehi.
Sejarah menunjukan, bahwa proses bahasa Arab menjadi suatu bahasa yang berdiri sendiri melalui proses yang cukup lama. Proses pertama, dengan pemisahan salah satu keturunan bangsa Semit yang mengembara ke wilayah jazirah yang bertujuan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Proses kedua, terbentuknya kebudayaan lain yang sudah berbeda dengan bangsa pertama yang akhirnya tercipta alat komunikasi yang tampak berbeda dengan bahasa aslinya.
Jika kembali kepada sejarah pembentukan bahasa maka akan dikemukakan suatu proses yang sangat panjang selama berabad-abad. Kata yang satu mungkin saja tidak terpakai lagi dan selanjutnya hilang dan digantikan oleh kata baru, seperti halnya kita di Indonesia apakah itu serapan atau terbentuk dari proses perbedaan dialek di antara bangsa atau suku penutur bahasa Arab. Sebagai hasil proses perkembangan bahasa maka dapat dilihat kekuatan bahasa Arab Fusha yang berkembang hingga sekarang ini.[12]
5.      Bahasa al-Qurán dan Hadits
إنا أنزلناه قرأنا عربيا لعلكم تعقلون (يوسف : 2)
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qurán kepada Muhammad dengan bahasa Arab, supaya kamu sekalian memahaminya.” (Q.S. Yusuf : 2).
Berdasarkan ayat al-Qurán di atas, jelas lah bahwasannya al-Qurán diturunkan dengan berbahasa Arab. Wafi (2004 : 89) menegaskan dalam tulisannya mengenai Al-Qurán yang diturunkan dengan bahasa Arab Quraisy, yangmana dialek tersebut dipahami oleh semua suku di Arab dan berpengaruh besar terhadap kehidupan bangsa Arab dan sebagai bahasa Sastra Arab. Wafi bahkan menggambarkan tentang betapa besar kontribusi dialek Quraisy terhadap peninggalan masa jahiliyah yang berupa syair, muállaqat, khitabah, hikam, amtsal dan karangan-karangan lainnya. Sampai-sampai hampir dianggap asing sesuatu yang menggunakan bahasa selain dialek Quraisy ini.
Betapa terharunya orang-orang Arab mendengar alunan bahasa yang indah turun dari langit mengumandangkan nilai-nilai yang sangat agung melampaui segala apa yang mereka dengar dan ketahui selama ini. Menurut penulis keindahan bahasa Al Qur’an yang memukau telah berperan sebagai sarana bahasa yang memikat hati orang-orang untuk tunduk mengakui kebenaran Islam dan sekaligus menganutnya, Ini merupakan suatu indikasi bahwa bahasa Al Qur’an yang sampai kini dibaca oleh setiap muslim adalah bahasa yang hidup dikalangan masyarakat Arab sebagai alat komunikasi sehari-hari.
Disamping al-Qur’an yang diturunkan dengan bahasa Arab, ada pula al-Hadits yang juga berbahasa Arab Quraisy, yang isinya dari Allah, sedangkan redaksinya disusun oleh Nabi Muhammad Saw. Al-Hadits merupakan mukjizat paling penting sesudah al-Qurán yang berfungsi sebagai penafsir al-Qurán dan penjelas hukum-hukum serta undang-undangnya.
Al-Qur’an dan al-Hadits yang diajarkan oleh nabi muhammad pada umatnya menggunakan bahasa arab. Di dalam keduanya terdapat petunjuk dan pedoman bagi umat islam, jadi bahasa arab sudah selayaknya menjadi darah daging bagi kalangan umat islam dikarenakan bahasa arab tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Dengan kata lain bahasa arab merupakan bahasa pemersatu dalam agama isalam. Tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa mengerti bahasa arab yang sudah menjadi ciri khas agama islam. Mulai dari ritual-ritual dalam agama islam maupun sumber hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits semua menggunakan bahasa arab.
Peranan bahasa arab pada islam sangat erat kaitanya dengan diwahyukannya al-qur’an kepada Muhammad. Al-qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dengan bahasa arab ini sangat menakjubkan pemikiran manusia baik muslim maupun non muslim. Hal ini dikarenakan bahasa al-Qur’an yang sangat khas dan unik yaitu pada pengekspresian puitisnya yang mana manusia tidak ada yang bisa membuat sama persis walaupun hanya satu ayat.

6.      Pengaruh Bahasa al-Qurán dan al-Hadits di Jazirah Arab
Sebelum diturunkannya Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa dialek-dialek, yangmana masyarakat setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam bertutur kata (karena jaman dahulu belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara beberapa dialek yang muncul pada masa itu, terdapat satu dialek yang paling dominan dan berpengaruh besar terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban masyarakat Jazirah Abrab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain disebut dialek Quraisy. Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk dari bahasa Arab Fusha yang Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy ini.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits menggunakan bahasa Arab Quraisy, selain berfungsi sebagai lingua franca (bahasa pemersatu), keduanya menjadi rujukan dasar atas pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagai bidang, seperti agama, ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya. Dari sini, jelaslah bahwa peranan al-Qurán dan al-Hadits dengan segala keistimewaannya mampu membangun peradaban baru yang lebih maju dan terus berkembang di tengah masyarakat Arab khususnya dan seluruh umat manusia umumnya.[13]Hampir semua pengamat baik dari Barat maupun orang Muslim Arab menganggap bahasa al-Qurán sebagai bahasa yang memiliki standar ketinggian dan keelokan linguistik tertinggi yang tiada taranya. Menurut Arsyad (2003 : 1-2)[14][1], hal itu berdampak pada munculnya superioritas Sastra dan Filsafat bahkan pada Sains seperti Ilmu Matematika, Kedokteran, Ilmu Bumi, dan Tata Bahasa Arab pada masa-masa kejayaan Islam dan setelahnya.
Dengan adanya ayat-ayat al-Qurán, peradaban dan ilmu pengetahuan menjadi tumbuh dan berkembang. Masyarakat Arab khususnya beralih dari makhluk yang menyembah batu menuju masyarakat yang dapat mengatur dan memakmurkan bumi. Muhammad Ali al-Shabuni (dalam Musgamy : 2014) menyatakan bahwa para pakar bahasa Arab, kalangan linguis Arab dan ahli Ilm al-Bayan telah sepakat mengenai kemukjizatan al-Qurán ada pada faktor al-Quránnya itu sendiri, yang terkandung pada:
1.      Kefasihan susunan kalimatnya;
2.      Keindahan maknanya;
3.      Bentuk sistematika bahasanya yang menakjubkan.
Musgami (2014) menuturkan, disamping al-Qurán diturunkan dengan membawa dua tujuanpokok, yaitu; pertama, al-Qurán  merupakan mukjizat sebagai bukti kebenaran apa saja yangdisampaikan Nabi Muhammad Saw; kedua, al-Qurán sebagai hidayah (petunjuk) demi kebaikan kehidupan manusia di dunia dankehidupan di akhirat, al-Qurán  juga merupakan mukjizat abadi yang dapat membungkam para ahli balaghah yang hendak memadamkam cahaya Allah Swt, lewat syair-syair mereka. Dimana kebiasaan dan tradisi orang Arab pada saat itu selalu berlomba dalam bidang syair. Hal semacam ini memicu perkembangan bahasa Arab hingga sampai kepuncaknya, sempurna dari segi perubahan kata-katanya,struktur dan susunan gaya bahasanya. Disaat semacam inilah al-Qurán  diturunkan, bukan hanya sebagai bahasa wahyu yang menyatakan kebenaranNabi Muhammad Saw sebagai rasul Allah, tapi juga sebagai bahasa yang unggul, jauhdi atas bahasa lainnya.
Tayar Yusuf (1997 : 188) mengibaratkan Bahasa Arab dan al-Qurán  bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, mempelajari bahasa Arab adalah syarat wajib untuk menguasai isi al-Qurán  dan mempelajari bahasa Al-Qurán  berarti mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian peranan al-Qurán  terhadap bahasa Arab di samping sebagai alat komunikasi ke sesama manusia baik dalam dunia akademik maupun non akademik “Lingua Franca,” juga sebagai alat komunikasi manusia dengan Allah, yang terwujud dalam bentuk ibadah ghairu mahdhah dan sebagainya.
Disebut dalam Musgami (2014), Diturunkannya al-Qur’an pada saat itu, tak lepas dari pengaruhnya terhadap bahasa masyarakat Arab, yang timbul sebagai efek dari bahasa dasarnya yaitu bahasa Arab yang memiliki kesamaan dasar dialek “Quraisy.” Di antara pengaruhnya adalah:
1.    AlQur’an memperindah dan menghias lafadz bahasa Arab.
2.    Muncul makna-makna baru dalam lafadz bahasa Arab untuk mencocokkan danmemahamkan syariat Islam.
3.    Terjaganya bahasa Arab dari kepunahan, sebagaimana Alllah menjaga AlQur’an.“Sesungguhnya kami (yang) menurunkan Dzikr dan kami pula yang menjaganya.” (Qs Al Hijr: 9). Bahasa Arab Fusha hari ini adalah bahasa yang sama dengan bahasa Arab ketika al-Qur’an diturunkan. Tidak seperti bahasa kitab suci agama lain yang sebagian besar bahasanya tidak bisa dipahami lagi oleh orang orang zaman sekarang karena bahasa tersebut telah lama ditinggalkan dan hampir punah.
4.    Tersebarnya bahasa Arab ke seluruh penjuru dunia. Dimana saja dijumpai Islam,maka akan dijumpai bahasa Arab. Dan tidak tersisa permukaan bumi ini kecuali telahsampai syiar Islam kepadanya.
5.    Bahasa al-Qur’an ini dikuatkan pula dengan kesatuan dialek, yaitu dialek Quraisy.
6.    Barulah dari bahasa Arab ini berkembang ilmu-ilmu diniyyah seperti Ilmu Tafsiir , ‘Uluumul Hadiits , Fiqh , dan Ushul Fiqh .
7.    Dari bahasa Arab ini juga muncul ilmu-ilmu tentang kaidah bahasa Arab seperti nahwu-sharf dan lain-lain.
Sedangkan Ali Abd Wafi (2014 : 114) menjelaskan bahwa dengan turunnya al-Qurán, bahasa Arab menjadi lebih kokoh sebagai bahasa yang fasih, berkembang lebih luas, menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan dengan izin Allah akan kekal abadi selama langit dan bumi masih ada. Wafi juga mengatakan bahwa salah satu penyebab kuatnya posisi bahasa Arab, karena bahasa al-Qurán  diturunkan dalam bahasa Arab. Sementara itu, Faiz al-Math (1995 : 47) juga mengemukakan bahwa pengaruh al-Qurán  dalam bidang sastra adalah melatih bahasa mereka (Arab) dan menjadikan satu bahasa meskipun tempat tinggal mereka berjauhan. Dengan mempelajari kalimat dalam ayat-ayat al-Qurán , balaghah dan bayan-nya, kualitas mereka semakin tinggi dan semakin disukai orang, sekalipun oleh musuh.
Keistimewaan yang dimiliki oleh bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain disebabkan karena ia berfungsi sebagai bahasa al-Qurán  dan al-Hadits, dimana keduanya merupakan sumber pokok ajaran Islam karena itu eksistensi bahasa Arab sangat urgen untuk memahami al-Qurán  dan al-Hadits Nabi Muhammad saw.
Mengenai al-Hadits (dalam Faiz al-Math : 1995 : 35), Allah SWT berbicara melalui lidah rasul-Nya, dengan bahasa yang cukup jelas dan cukup bijak. Tidak ada seorang pun yang lebih fasihdari Nabi Saw.Allah mengaruniainya cara-cara berbicara dan mengajarkannya bahasa-bahasadan dialek-dialek bangsa Arab, padahal beliau sendiri belum pernahbergaul dengan mereka seluruhnya. Hal ini karena Nabi Saw akan dijadikan guru, pembimbing, dan imam untuk semua umat manusia. Gaya bahasa Nabi Saw itu ablagh (singkat, padat dan memikat). Keindahannya menempati peringkat keduasetelah Al-Qurán , keunggulannya tidak bisa ditandingi oleh gaya bahasa pujanggaatau retorika orator ulung manapun. Kata-katanya jernih, indah dan tenangsesuai dengan situasi dan kondisi sehingga enak didengar dan mudah dicerna.
Faiz al-Math (1995 : 36) menuturkan bahwa bahasa Nabi Saw berbeda dengan para penyair atau penulis (sebelum kelahiran beliau), yang sering kali menuliskan karyanya dengan kalimat-kalimat rancu dan dibuat-buat sehingga maknanya sulit dimengerti, yang untuk memahami sebuah syair, mereka harus memeras otak atau dengan cara menghafalnya. Dengan adanya al-Hadits, maka para penyair merujuk kepada ucapan Rasulullah (selain al-Qurán ) sehingga syairnya tidak sulit untuk dipahami. Disamping itu, gaya bahasa Nabi saw itu sederhana, dan dapat dimengerti oleh setiap orang. lbarat pohon, gaya bahasa beliau itu buahnya, sedangkan gaya bahasa penyair dan ahli balagah itu daunnya. Hal ini dijadikan dan dianggap al-Hadits dan al-Qurán  sebagai sekolah tinggi bahasa dan sastra yang dapat mendidik orang untuk menjadi penyair, penulis atau orator.
Wafi (2014 : 114) menjelaskan bahwa ada dua pengaruh al-Hadits yang sangat signifikan terhadap bahasa Arab yaitu :
1.                            Memperkokoh posisi bahasa Quraisy (bahasa Arab). Hal ini disebabkankarena turunnya al-Qurán  dan datangnya al-Hadits dengan bahasa Quraisy. Keduanya merupakan penopang agama Islam yang dipegangi oleh pembesar-pembesar kabilah Arab.
2.                            Menata dan membangkitkan bahasa Arab kepada tingkat sastra yang lebih tinggi. Pengaruh ini nampak dari berbagai segi bahasa baik dari segi tujuan, makna, uslub maupun lafaldz-lafaldznya.
Dengan demikian bahasa Arab setelah turunnya al-Qurán  dan datangnya al-Hadits menduduki posisi yang signifikan dalam kehidupan manusia khususnya umat Islam karena terkandung di dalamnya sumber ajaran Islam. Jauh sebelum Islam datang, bahasa Arab telah dikenal dan dipakai sebagai bahasa komunikasi di kalangan bangsa Arab Makkah dan sekitarnya. William Beston (tt : 182) menuturkan, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, bahasa Arab telah dituturkan oleh kurang lebih lima puluh juta orang di sebuah daerah yang luas sekitar semenanjung Arabia dan menjadikan bahasa Arab Arab sebagai bahasa resmi mereka
Dari uraian di atas, Dasuki (tt : 149) menuliskan adanya efek al-Qurán dan al-Hadits terhadap ahasa Arab, yaitu:
1.                           Menguatkan bahasa Quraisy: al-Qurán dan al-Hadits didatangkan dengan bahasa Quraisy, yang mana keduanya merupakan sandaran agama Islam yang dianut oleh kabilah-kabilah arab.
2.                           Menjadi rujukan dan pemersatu bahasa serta bangsa Arab yang sebelumna terdiri dari dialek-dialek yang beragam.kaena bahasa Fushah merujuk kepada uslub Qur’ani yangakhirnya menjadi lingua franca (bahasa pemersatu)
3.                           Memelihara bahasa Arab, memperbaikinya dan membangun bahasa Arab supaya lebih maju. Pengaruh tersebut jelas pada perbedaan yang mengarah pada bahasa, yaitu pada bahasa tujuan, makna, susunan dalam teks al-Qurán dan al-Hadits telah membuka pintu-pintu seni dalam bahasa Arab, misalnya dalam masalah hukum dan perundang-undangan, kisah-kisah dan sejarah, peraturan agama, masalah sosial, tatanan politik, bahkan bahasa Arab itu mencapai bidang matematika, kimia, logika, filsafat, hukum, seni bahasa, pesan politik, mengendalikan urusan negara dan ateisme. Terhadap kata dan makna efeknya sangat jelas. Mengkhususkan lafaz-lafaz Arab dari makna yang umum sampai masalah ibadah, urusan politik, administrasi dan perang atau istilah ilmu pengetahuan dan seni.
Berdasarkan rincian pengaruh al-Qurán dan al-Hadits terhadap perkembangan bahasa Arab memberikan penjelasan bahwa keduanya berkontribusi besar dalam mengevolusi atau bahkan merevolusi tatanan komunikasi di tengah masyarakat Arab di masa shadrul Islam utamanya sehingga terus berkembang di masa selanjutnya.
Al-Qur’an dan al-Hadits yang diajarkan oleh nabi muhammad pada umatnya menggunakan bahasa arab. Di dalam keduanya terdapat petunjuk dan pedoman bagi umat islam, jadi bahasa arab sudah selayaknya menjadi darah daging bagi kalangan umat islam dikarenakan bahasa arab tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Dengan kata lain bahasa arab merupakan bahasa pemersatu dalam agama isalam. Tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa mengerti bahasa arab yang sudah menjadi ciri khas agama islam. Mulai dari ritual-ritual dalam agama islam maupun sumber hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits semua menggunakan bahasa arab.
Peranan bahasa arab pada islam sangat erat kaitanya dengan diwahyukannya al-qur’an kepada Muhammad. Al-qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dengan bahasa arab ini sangat menakjubkan pemikiran manusia baik muslim maupun non muslim. Hal ini dikarenakan bahasa al-Qur’an yang sangat khas dan unik yaitu pada pengekspresian puitisnya yang mana manusia tidak ada yang bisa membuat sama persis walaupun hanya satu ayat.
Islam datang sebagai rahmatan lil ‘alamin tidak diragukan lagi, dalam kiprahnya memajukan ilmu pengetahuan di dunia ini agama islam memiliki peranan yang penting. Berangkat dari hadits nabi “menuntun ilmu wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan”. Dengan di dorong cinta akan keilmuan para cendikiawan muslim mulai menerjemahkan ilmu pengetahuan dan ilsafat Yunani ke dalam bahasa arab. Hal ini terjadi pada masa Kholifah Abbasiyah (132-656H/750-1258M) pada masa ini sering dikenal dengan abad terjemah.
Disaat barat dalam masa kegelapan dikarenakan gereja yang menganggap ilmu pengetahuan dan filsafat berbahaya bagi agama kristiani islam muncul sebagai pemelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ilsafat Yunani. Bahasa arab dalam hal ini mempunyai peranan yang besar dikarenakan semua teks-teks dari ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani disalin kedalam bahasa umut islam ini. Bahasa arab menjadi bahasa yang tak terlepaskan dari ilmu pengetahuan dikarenakan literatur-literatur ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di terjemahkan ke dalam bahasa arab.

















BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Dari pemaparan singkat di atas maka penulis dapat membuat end blok sebagai esensi pembahasan untuk dianalisa lebih lanjut. Yaitu  Bahasa Arab berasal dari bahasa Semit kemudian membentuk bahasa-bahasa lain setelah terpisah dari induknya. Bahasa Semit mulai terpecah-pecah setelah terpublikasi kedaerah-daerah lainnya seperti Babilonia, Assiriyah, Ibrani, Aramiyah, Arab dan Etopiah. Mungkin karena proses evolusi yang sangat panjang menjadikan bahasa itu berubah sedikit demi sedikit, tanpa dirasakan oleh pemakainya. Dan ditepis oleh bahasa lain yang berinteraksi kemudian dijadikan sebagai bahasa yang tersosialisasi.
Sebelum diturunkannya Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa dialek-dialek, yangmana masyarakat setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam bertutur kata (karena jaman dahulu belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara beberapa dialek yang muncul pada masa itu, terdapat satu dialek yang paling dominan dan berpengaruh besar terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban masyarakat Jazirah Abrab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain disebut dialek Quraisy. Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk dari bahasa Arab Fusha yang Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy ini.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits menggunakan bahasa Arab Quraisy, selain berfungsi sebagai lingua franca (bahasa pemersatu), keduanya menjadi rujukan dasar atas pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagai bidang, seperti agama, ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya. Dari sini, jelaslah bahwa peranan al-Qurán dan al-Hadits dengan segala keistimewaannya mampu membangun peradaban baru yang lebih maju dan terus berkembang di tengah masyarakat Arab khususnya dan seluruh umat manusia umumnya.
Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa internasional, juga telah menjadi bahasa agama yang pada gilirannya menjadi bahasa pemersatu bagi umat Islam dengan melalui proses yang panjang. Bahasa Arab juga memiliki fungsi istimewa dari bahasa-bahasa lainnya, bukan saja bahasa Arab memiliki nilai sastra bermutu tinggi bagi mereka yang mengetahui dan mendalami, akan tetapi bahasa Arab ditakdirkan sebagai bahasa al-Qur'an yakni mengkomunikasikan kalam Allah yang di dalamnya mengandung uslub bahasa yang sungguh mengagumkan manusia. manusia tidak seorangpun mampu menandinginya. Karena memang bahasa Arab ditakdirkan sebagai bahasa agama bersumber dari kitab suci al-Qur'an.
2 SARAN
Muda-mudahan makalah ini dapat merangsang para ilmuan linguisti, sejarahwan dan pemikir muslim untuk bersama-sama memelihara kelestarian bahasa yang masih dalam posisi buritan menuju posisi yang gemilang. Karena sebuah bencana sejarah bila suatu umat merasa bahagia hidup dimasa lampau tetapi gagal berurusan dengan masalah kekinian. Padahal umat Islan harus eksis kini dan di sini, dan bahagian nanti dan di sana.  













Daftar Pustaka
1.       Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998),
2.       https://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab
3.       Males Sutiasumarga, Kesustraan Arab Asal Mula Dan Perkembangannya, Zikrul Hakim, Jakarta, 2000
4.       Abdullah Abbas Nawawi, Learen the language of the holy Qur'an, diterjemahkan oleh tim redaksi penerbit Mizan dengan judul, Belajar mudah bahasa Al-Qur'an, (Cet. II; Kairo: Darul Marifah),
5.       Khatibul Umam, et. all, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama RI, 1975), h. 74
6.       Harun Ar-Rasyid, Prospek Bahasa Arab masa kini dan masa yang akan datang, Makalah Seminar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (HMJ-PBA)
7.       Wafi, Ali Abd. al- Wahid. Fiqhi al-Lughah Kairo: Dar al-Nahda
8.       Drs. H. Abdul Mu’in, M.A., Analisis Kontrastif Bahasa Arab & Bahasa Indonesia, Pustaka Husna Baru, Jakarta, 2004
9.       Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
12.    Musgamy, Awaliyah. Jurnal al-Hikmah Vol. XV Nomor 1/2014 (Pengaruh al-Qurán dan al-HaditsTerhadap Bahasa Arab)


[1] Pendapat tersebut pertama kali dilontarkan oleh seorang ilmuan Jerman yang bernama Schlozer pada akhir abad XVIII M. Lihat Jurji Zaidan, Tarikh al-Lughah al-Arabiyah (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1977), h. 21
[2] Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
[3]https://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab
[4]Bahasa Ibrani merupakan rumpun bahasa Semit masih terpakai sebatas pada bahasa kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Adapun bahasa Ibrani yang digunakan di Israel adalah bahasa Ibrani Modern yang telah melalui proses modifikasi dan serapan bahasa Eropa cukup dominan di dalamnya. Lihat Mahmud Fahmi, Hijjas Madhal al-Ilmu al-Lughah, (Kairo, Darul Qiba'a al-Riba'ah, 1948), h. 173
[5] Khatibul Umam, et. all, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama RI, 1975), h. 74

[6] Philif K. Hitti, The Arab Short Historis, diterjemahkan oleh Usuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing dengan Judul dunia Arab (Cet. III; Bandung: Sumur Bandung, t. th), h. 7
[7] Harun Ar-Rasyid, Prospek Bahasa Arab masa kini dan masa yang akan datang, Makalah Seminar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (HMJ-PBA)
[8] Abdullah Abbas Nawawi, Learen the language of the holy Qur'an, diterjemahkan oleh tim redaksi penerbit Mizan dengan judul, Belajar mudah bahasa Al-Qur'an, (Cet. II; Kairo: Darul Marifah), h. 35
[9]Males Sutiasumarga, Kesustraan Arab Asal Mula Dan Perkembangannya, Zikrul Hakim, Jakarta, 2000, hal. 29.
[10] Drs. H. Abdul Mu’in, M.A., Analisis Kontrastif Bahasa Arab & Bahasa Indonesia, Pustaka Husna Baru, Jakarta, 2004, hal. 27
[12] Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
[14][1]Musgamy, Awaliyah. Jurnal al-Hikmah Vol. XV Nomor 1/2014 (Pengaruh al-Qurán dan al-HaditsTerhadap Bahasa Arab).http://www.uin-alauddin.ac.id/download-pages%20from%20jurnal%20al-hikmah%202014-5.pdf. (diunduh tanggal 28 oktober 2015