DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
“Sosiopsikolinguistic”
OLEH :
FERKI AHMAD
MARLION
21150120000020
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Ahmad Sayuti Nasution , MA.
Dr.Torkhis Lubis, Lc. DEL
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam interaksi
sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi pokok untuk menyampaikan sebuah
pesan antara komunikator dan komunikan. Diantara beragam bahasa di dunia,
terdapat bahasa Arab yang dalam sejarah tercatat sebagai rumpun bahasa Semit
yang dinisbatkan pada Syam putra Nabi Nuh As. Ada dua klasifikasi pada bahasa
Arab terdahulu, yaitu: pertama, Al-Arabiyat al-baidah yang
dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqusy (bahasa Arab prasasti), ke
dua, Al-Arabiyat al-baqiyah yaitu bahasa suasana formal seperti
pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme.
Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun bahasa Semit, dipergunakan oleh
suku Arab yang tinggal di Semenanjung Jazirah Arab. Sejarah awal
perkembangannya tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, para sejarawan dapat
memperkirakan bahwa sekitar satu setengah abad atau dua abad sebelum kedatangan
Islam, telah ditemukan beberapa prasasti yang di dalamnya tertulis karya-karya
sastra berbentuk syair (puisi) dan sedikit berbentuk prosa.
Sebelum diturunkannya Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa
dialek-dialek, yangmana masyarakat setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam
bertutur kata (karena jaman dahulu belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara
beberapa dialek yang muncul pada masa itu, terdapat satu dialek yang paling
dominan dan berpengaruh besar terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban
masyarakat Jazirah Arab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain
disebut dialek Quraisy. Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk
dari bahasa Arab Fusha yang Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy
ini.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits juga memberikan pengaruh terhadap
kemajuan masyarakat Arab diberbagai bidang, seperti agama, pengetahuan,
ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya.
Dalam interaksi
sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi pokok untuk menyampaikan sebuah
pesan antara komunikator dan komunikan. Diantara beragam bahasa di dunia,
terdapat bahasa Arab yang dalam sejarah tercatat sebagai rumpun bahasa Semit
yang dinisbatkan pada Syam putra Nabi Nuh As. Ada dua klasifikasi pada bahasa
Arab terdahulu, yaitu: pertama, Al-Arabiyat al-baidah yang
dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqusy (bahasa Arab prasasti), ke
dua, Al-Arabiyat al-baqiyah yaitu bahasa suasana formal seperti
pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme.
Sebelum diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits, keragaman dialek pada
masyarakat Arab menimbulkan kesulitan berkomunikasi ketika berkumpul dengan
masyarakat dari berbagai suku. Namun keberadaan dominasi dialek Quraisy
menjadi solusi atas permasalahan itu. Karena al-Qurán dan al-hadits diturunkan
dengan bahasa Arab Quraisy sehingga keduanya berfungsi sebagai allughoh
al musytarikah (lingua franca) bahasa pemersatu.
Diturunkannya al-Qurán dan
al-Hadits juga memberikan pengaruh terhadap kemajuan masyarakat Arab diberbagai
bidang, seperti agama, pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, budaya dan
sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Sekilas
tentang bangsa Arab
2.
Asal-Usul Bahasa Arab
3.
Bahasa Arab Pra Islam
4.
Pembentukan Bahasa Arab
5.
Bahasa al-Qurán dan Hadits
6.
Pengaruh Bahasa al-Qurán dan al-Hadits di Jazirah Arab
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Sekilas tentang bangsa Arab
Berbicara
tentang bahasa, maka tidak lepas dari bangsa yang menuturkannya. Menurut
sejarah, bahwa bangsa Arab seperti halnya bangsa Aria, Pinikiah, Ibrani, Yaman,
Babilonia dan bangsa-bangsa yang terdapat di sekitarnya itu berasal dari satu
bangsa yang disebut bangsa al-Samaniyyun.[1]Sedangkan
bangsa Semit (al-Samaniyyun) adalah bangsa yang berasal dari garis keturunan
Nabi Nuh yang bernama Sam Ibn Nuh.Yang kemudian dalam perkembangannya
melahirkan berbagai bangsa dan bahasa, di antaranya bangsa Akkadia, Kan'an,
Aram, Arab dan Ethopiah. Dari sini dapat dipahami bahwa sebenarnya
bahasa-bahasa yang telah dikemukakan itu berasal dari satu bahasa yang
dituturkan dari satu keturunan .[2]
Bangsa Arab (Bahasa Arab: عرب 'Arab)
adalah salah satu dari suku bangsaSemitik yang mayoritas
adalah penduduk di Dunia Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika Utara, serta
sebagian minoritas penduduk di Iran, Turki serta komunitas diaspora lainnya di berbagai
negara. Seseorang umumnya dianggap sebagai Arab dilihat dari latar-belakang
mereka, baik secara etnis, bahasa, maupun budayanya.Secara
politis, orang Arab adalah mereka yang berbahasa ibuArab dan berayah
keturunan Arab pula.Selain di Iran dan Turki, juga terdapat sejumlah besar
diaspora Arab di Amerika dan Eropa.
Berdasarkan tradisi Ibrahim, bangsa Arab
dihubungkan dengan Isma'il; sedangkan
beberapa penulis sejarah dan nasab beranggapan bahwa bangsa Arab berasal dari Ya'rab, yang mana keduanya tidak dapat dipastikan
dari perspektif sejarah. Dalam sejarah, penyebutan paling awal istilah Arab
ditemukan pada manuskrip Assyria dari abad ke-9
SM; yang menurut pendapat kebanyakan peneliti, dalam bahasa Assyria dan beberapa bahasa Semit lainnya artinya adalah "orang-orang gurun (badui)".
Menurut bahasa,
ʻArab artinya padang pasir, tanah gundul
dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan
dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana
sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah
tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya
sebagai tempat tinggal.[3]
2.
Asal-Usul Bahasa Arab
Jika kita
berbicara tentang asal usul bahasa maka itu tidak lepas dari bangsa yang
menuturkannya. Asal usul bahasa Arab misalnya itu berasal dari penduduk asli
Jazirah Arab dan merupakan salah satu rumpun bahasa Semit yang tumbuh dan
berkembang jauh sebelum agama Islam datang dan mampu bertahan hingga kini
seperti halnya bahasa Ibrani.[4]
Kemudian dalam perkembangannya melahirkan berbagai bahasa di antaranya bahasa
Akadiya, Kan'an Aramia. Arab dan Ethopia.[5]
Bahasa Arab
menurut para linguistik berasal dari ras manusia dan rumpun bangsa yang
mempunyai peran besar dalam sejarah peradaban kuno yakni bahasa Semit kemudian
keturunan mereka berpindah tempat meninggalkan tanah airnya dan menetap di
lembah sungai Tigris dan Euphart sehingga membentuk rumpun bahasa dan bangsa
baru Termasuk di dalamnya bahasa Ibrani.[6]
Wafi dalam bukunya (2004 :
78) menuturkan bahwasannya bahasa Arab lahir bersamaan dengan bahasa Yaman Kuno
dan bahasa HabsyahSamiyah, yangmana merupakan satu rumpun bahasa Samiyah
Janubiyah. Tetapi ada sebagian sejarawan yang menuturkan rumpun bahasanya
bukan Samiyah Janubiyah melainkan Samiyah Syamaliyah. Sebagaimana
dalam Hitti (2014 : 109-110), yang disebut bahasa Arab adalah bahasa
Himyar-Saba, juga dialek Hijaz sebelah utara, tetapi karena yang terakhir
menjadi bahasa agama Islam dan sepenuhnya menggantikan dialek Yaman sebelah
selatan, maka ia menjadi bahasa Arab par excellence. Karena itu, ketika
kita menyebut orang-orang Arab dan bahasa Arab, maka yang kita maksudkan adalah
orang-orang Arab Utara dan bahasa Al-Qurán .
Bahasa Arab merupakan
rumpun bahasa Semit dan mempunyai anggota penutur yang terbanyak. Bangsa Semit
berikut bahasanya dinisbatkan pada putra Nabi Nuh
yang bernama Sam ibn Nuh. Garis keturunan Sam inilah yang melahirkan berbagai
bangsa dan bahasa, di antaranya ‘Akkadiyyah(abad -20 SM), Aramiyah (abad -9 SM)Kan‘aniyah,Arab (mulai abad -1 SM “Baidah” dan -5 M “Baqiyah”) dan lainnya. (Wafi : 2004 : 78-79).
Wafi (2004 : 79) menyebutkan bahwasannya bahasa
Arab Baidah masih berupa dialek-dialek yang dituturkan oleh mayoritas
masyarakat Arab Kuno di kawasan Utara dekat dengan perbatasan Aramiyah, Madain
Shalih dan Hijaz. Sehingga Masyarakat di kawasan ini, dalam berbahasa
sangat dipengaruhi oleh bahasa Aramiyah. Bahasa Arab Baidah ini dipakai lama
sebelum masa Islam. Hanya sedikit Nuqusy yang masih digunakan dalam
perkembangan bahasa Arab selanjutnya atau Baqiyah, sehingga bahasa ini
juga dinamai dengan bahasa Arab Nuqusy.
Seorang sarjana ahli bahasa yang terkenal, A. L. Schioser (wafat
tahun 1781 M) menjelaskan bahasa Arab adalah termasuk rumpun bahasa semit dan
menjelan abad ketiga Masehi, bahasa Arab berkembang menjadi bahasa yang
sempurna.[7]
Melacak asal usul bahasa Arab, pertumbuhan dan pembagianya secara jelas
dapat dilihat bahwa bahasa Arab mengalami kemunduran dengan banyaknya bahasa
Arab (dialek) yang telah punah dan hanya dapat diketahui melalui
pahatan-pahatan atau lebih dikenal dengan al-Arabiyah al-Nuqusy dalam
tulisan ini dapat juga dilihat kemajuan bahasa Arab dalam prosesnya yang
cemerlang hingga melahirkan bahasa Arab yang kokoh dan memiliki multi
fungsi, setelah ditakdirkan menjadi
bahasa al-Qur'an.[8]
Dalam Tulisan ini penulis akan menelusuri lorong-lorong tentang bagaimana
asal usul bahasa Arab dan bagaimana proses pertumbuhannya dan pembagiannya
hingga menjadi bahasa Arab resmi.
Sementara bahasa Arab Baqiyah,
berdasarkan Wafi (2004 : 79), adalah
bahasa Arab yang masih digunakan hingga saat ini sebagai bahasa Arab Induk di
bidang sastra, penulisan, dan pembukuan.
Bahasa ini menyebar di kawasan Nejed dan Hijaz, yang kemudian menyebar ke
berbagai penjuru Arab dengan penggunaan dialek masing-masing daerah.
3.
Bahasa Arab Pra
Islam
Disinggung dalam Wafi (2004 : 86), bahwasannya bahasa Arab
diklasifikan oleh para penuturnyae sejak masa lampau,
berdasarkan suku-suku, keadaan goegrafis, lingkungan sosial dan cara pandang
masyarakat serta keragaman budaya, dan lain-lain. Peng-klasan tersebut
melahirkan beragam dialek yang masing-masing memiliki perbedaan dalam segi
fonetik, sintak, gramatikal maupun kosa kata yang digunakan.
Keberagaman dialek ini
digunakan masyarakat Arab dalam komunikasi ketika berinteraksi dengan sesama,
juga dalam transaksi jual-beli, Ibadah Haji dan strategi peperangan. Namun dari
banyak dialek yang ada pada masa itu, terdapat satu dialek yang berpengaruh
lebih luas di kalangan masyarakat Arab. Dialek ini dapat dimengerti dan
dipahami oleh berbagai klas-klas tersebut di atas. Masyarakat Arab menamai
dialek ini dengan Quraisy yang dinisbatkan kepada suku Quraisy “suku
ternama di Jazirah Arab.”
Wafi (2004 : 87)
merincikan beberapa faktor pendorong dominasi dialek Quraisy atas
masyarakat Arab. Faktor-faktor tersebut di antaranya:
1. Faktor
keagamaan,
kaum Quraisy sering mengunjungi Baitullah, untuk melaksanakan
urusan dan peribadatannya. Dalam pandangan mayoritas suku bangsa Arab dimasa Jahiliyah,
Baitullah merupakan tempat yang disucikan, dimana banyak orang yang
berkunjung kesana untuk melaksanakan manasik haji, dan adapula yang datang
untuk menyembah patung – patung dan membawakan sesajian kurban. Bagi kaum Quraisy
hal itu merupakan pengaruh keagamaan yang melekat pada suku bangsa Arab.
2. Kekuasaan
ekonomi,
digenggaman orang – orang Quraisy terdapat sejumlah pandangan yang besar,
yaitu bagi mereka yang sering berpindah – pindah tempat berdagang diberbagai
wilayah jazirah Arab, dari
Syam bagian utara menuju Yaman Selatan. Sebagaimana yang telah kami sampaikan
dalam surah Quraisy : “لإيلاف قريش إيلافهم رحلة
الشتاء والصيف... الخ”. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, maka
kendali kekayaan di negara Arab di pegang oleh
kaum Quraisy.
3. Pengaruh
politik,
bagi orang – orang Quraisy telah menjadi suatu kenyataan bahwa keutamaan
pengaruh agama dan ekonomi serta keutamaan kedudukan negaranya bisa menjadi
suatu pengaruh politik yang cukup kuat diantara negara – negara Arab lainnya
pada masa Jahiliyah.
4. Dialek Quraisy
merupakan dialek Arab terluas yang menjadi suatu aset kekayaan bangsa. Ia merupakan dialek Arab tertinggi dari segi uslubnya,
serta menjadi dialek yang paling mampu untuk mengutarakan seni kata yang
berbeda. Hal itu disebabkan oleh keutamaan yang telah ditentukan bagi para
penuturnya, baik dari segi sarana kebudayaan maupun kesempatan yang banyak
untuk memperoleh kesan khusus dengan dialek Arab yang berbeda – beda.
4.
Pembentukan
Bahasa Arab
Pada zaman
jahiliyah bahasa arab fusha telah terbentuk dengan adanya festival syair-syair
yang diadakan di pasar ukaz, zul majah dan majanah. Festival ini menjadi
kegiatan yang penting pada zaman jahiliyah untuk terbentuknya standarisasi
bahasa arab fusha. Dengan adanya festival yang diadakan dipasar-pasar telah
menjadi medium bagi para penyair untuk mengungkapkan segala macam keluh rasa
baik yang berupa permasalahan-permasalahan yang terjadi diantar kabilah ataupun pujian bagi para
ketua kabilah. Kegiatan ini menjadikan bahasa arab mempunyai nilai yang sangat
penting karena menjadi bahasa perantara antar kabilah atau yang sering disebut
lingua fanca.
Bahasa arab
selain sebagai lingua franca juga digunakan untuk membuat puisi, dimana puisi
pada zaman ini mempunyai kedudukan tinggi dan pengaruh yang kuat bagi setiap
suku. Seorang penyair dianggap sebagai juru bicara dalam suatu kabilah yang
dapat membuat sukunya hidup damai, sejahtera dan dapat membuat sukunya
memenangkan peperangan dikarenakan isi puisi yang dibuatnya.[9]
Dalam konteks ini bahasa arab yang termaktub dalam syair-syair bisa dikatakan
sebagai alat pemersatu dan sebagai senjata guna melemahkan atau menghancurkan
musuh.[10] Pada
masa awal islam terjadi pergeseran kajian, bahasa arab yang dulu identik denga
syair-syair mulai luntur dengan turunya al-qur’an. Masyarakat arab mulai
mengkaji bahasa yang digunakan al-qur’an yang di bawa oleh Muhammad. Dengan
turunnya al-qur’an yang berbahasa arab standar menjadikan bahasa sangat penting dan menjadi perhatian
dikalangan masyarakat arab bukan hanya tutur bahasnya yang indah akantetapi
dengan adanya agama baru yang muncul saat itu. Datangnya islam sebagai agama
rahmatan lil ‘alamin menjadi peristiwa terpenting dalam sejarah perkembangan
bahasa arab.
Setelah nabi
mendakwahkan islam secara terang-terangan al-qur’an yang berbahasa arab
menggemparkan seluruh kalangan bangsa arab khususnya kafir quraisy makah. Nabi
Muhammad sebagai penerima al-qur’an dianggap sebagai penyair, penyihir dan
dukun oleh orang-orang arab, akan tetapi tidak sedikit dari mereka yang
menerima dan memeluk agama baru yang benama islam. Al-qur’an yang diturunkan
dalam tujuh huruf yang mempresentasikan bahasa pada saat itu menjadikan bahasa
arab mempunyai kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar pada tatanan
masyarakat. Al-qur’an yang dibawa Muhammad menjadikan
beliau pada tingkat yang jauh berbeda dari Fuhul dan Rijal Balaghah
(jagoan-jagoan bahasa) dikarenakan bahasanya yang sangat indah berbeda dengan
bahasa-bahasa yang digunakan umumnya penyair arab pada saat itu. Pada tingkatan
inilah bangsa arab mulai munyusun format bahasa arab menjadi bahasa yang lebih
sempurna.[11]
Dalam perkembangan bahasa Semit, muncullah bangsa Akkadia sebagai
rumpun bangsa Semit dianggap sebagai bangsa dan bahasa yang tertua dari rumpun
Semit yang terditeksi dalam catatan sejarah. Bangsa ini mendiami wilayah lembah
sungai Tigris Euphrat yang lebih dikenal dengan Mesopotamia kira-kira 3000 tahun
SM. Kata Akkadia berasal dari nama Ibukota Akkad. Bangsa Akkadia biasa pula
disebut dengan bangsa Babilonia dan Assuriya kedua bangsa tersebut
mempergunakan bahasa Akkadia.
Bahasa Aramiyah dan bahasa Kan'aniyah dipergunakan oleh bangsa
Finikiyah dan Arabiyyah dan selanjutnya muncul pula bahasa Arab, bahasa Yaman
kuno, dan bahasa Habsyi. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika terlihat
adanya persamaan-persamaan dalam bahasa mereka. Hanya saja menurut para
peneliti,] sangat sulit untuk
dibuktikan karena kita tidak mengetahui bahasa-bahasa yang telah disebutkan
sebelumnya kecuali terbatas pada bahasa Arab saja.
Di antara sekian rumpun bahasa Semit yang telah dikemukakan bahwa
semuanya telah punah ditelan oleh dinamika perjalanan umat manusia yang telah
melewati ribuan tahun yang tersisa hanyalah bahasa Arab yang sekaligus memberi
pengaruh yang cukup besar dalam sejarah peradaban umat manusia, terutama disaat
memasuki abad VI Masehi.
Sejarah menunjukan, bahwa proses bahasa Arab menjadi suatu bahasa
yang berdiri sendiri melalui proses yang cukup lama. Proses pertama,
dengan pemisahan salah satu keturunan bangsa Semit yang mengembara ke wilayah
jazirah yang bertujuan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Proses kedua,
terbentuknya kebudayaan lain yang sudah berbeda dengan bangsa pertama yang
akhirnya tercipta alat komunikasi yang tampak berbeda dengan bahasa aslinya.
Jika kembali kepada sejarah pembentukan bahasa maka akan
dikemukakan suatu proses yang sangat panjang selama berabad-abad. Kata yang
satu mungkin saja tidak terpakai lagi dan selanjutnya hilang dan digantikan
oleh kata baru, seperti halnya kita di Indonesia apakah itu serapan atau
terbentuk dari proses perbedaan dialek di antara bangsa atau suku penutur
bahasa Arab. Sebagai hasil proses perkembangan bahasa maka dapat dilihat
kekuatan bahasa Arab Fusha yang berkembang hingga sekarang ini.[12]
5.
Bahasa al-Qurán dan Hadits
إنا أنزلناه قرأنا عربيا لعلكم تعقلون (يوسف : 2)
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qurán kepada Muhammad dengan bahasa
Arab, supaya kamu sekalian memahaminya.” (Q.S. Yusuf : 2).
Berdasarkan ayat al-Qurán
di atas, jelas lah bahwasannya al-Qurán
diturunkan dengan berbahasa Arab. Wafi (2004 : 89)
menegaskan dalam tulisannya mengenai Al-Qurán yang diturunkan dengan bahasa
Arab Quraisy, yangmana dialek tersebut dipahami oleh semua suku di Arab
dan berpengaruh besar terhadap kehidupan bangsa Arab dan sebagai bahasa Sastra
Arab. Wafi bahkan menggambarkan tentang betapa besar kontribusi dialek Quraisy
terhadap peninggalan masa jahiliyah yang berupa syair, muállaqat,
khitabah, hikam, amtsal dan karangan-karangan lainnya.
Sampai-sampai hampir dianggap asing sesuatu yang menggunakan bahasa selain
dialek Quraisy ini.
Betapa terharunya
orang-orang Arab mendengar alunan bahasa yang indah turun dari langit
mengumandangkan nilai-nilai yang sangat agung melampaui segala apa yang mereka
dengar dan ketahui selama ini. Menurut penulis keindahan bahasa Al Qur’an yang
memukau telah berperan sebagai sarana bahasa yang memikat hati orang-orang
untuk tunduk mengakui kebenaran Islam dan sekaligus menganutnya, Ini merupakan
suatu indikasi bahwa bahasa Al Qur’an yang sampai kini dibaca oleh setiap
muslim adalah bahasa yang hidup dikalangan masyarakat Arab sebagai alat
komunikasi sehari-hari.
Disamping al-Qur’an yang
diturunkan dengan bahasa Arab, ada pula al-Hadits yang juga berbahasa Arab Quraisy,
yang isinya dari Allah, sedangkan redaksinya disusun oleh Nabi Muhammad Saw.
Al-Hadits merupakan mukjizat paling penting sesudah al-Qurán yang berfungsi
sebagai penafsir al-Qurán dan penjelas hukum-hukum serta undang-undangnya.
Al-Qur’an dan al-Hadits yang diajarkan oleh nabi muhammad
pada umatnya menggunakan bahasa arab. Di dalam keduanya terdapat petunjuk dan
pedoman bagi umat islam, jadi bahasa arab sudah selayaknya menjadi darah daging
bagi kalangan umat islam dikarenakan bahasa arab tidak bisa dilepaskan dalam
kehidupan sehari-hari seorang muslim. Dengan kata lain bahasa arab merupakan bahasa pemersatu
dalam agama isalam. Tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa mengerti
bahasa arab yang sudah menjadi ciri khas agama islam. Mulai dari ritual-ritual
dalam agama islam maupun sumber hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits
semua menggunakan bahasa arab.
Peranan
bahasa arab pada islam sangat erat kaitanya dengan diwahyukannya al-qur’an
kepada Muhammad. Al-qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dengan bahasa
arab ini sangat menakjubkan pemikiran manusia baik muslim maupun non muslim.
Hal ini dikarenakan bahasa al-Qur’an yang sangat khas dan unik yaitu pada
pengekspresian puitisnya yang mana manusia tidak ada yang bisa membuat sama
persis walaupun hanya satu ayat.
6.
Pengaruh Bahasa al-Qurán dan al-Hadits di Jazirah Arab
Sebelum diturunkannya Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa dialek-dialek,
yangmana masyarakat setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam bertutur kata
(karena jaman dahulu belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara beberapa dialek
yang muncul pada masa itu, terdapat satu dialek yang paling dominan dan
berpengaruh besar terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban masyarakat
Jazirah Abrab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain disebut dialek Quraisy.
Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk dari bahasa Arab Fusha yang
Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy ini.
Diturunkannya al-Qurán dan al-Hadits menggunakan bahasa Arab Quraisy, selain
berfungsi sebagai lingua franca (bahasa pemersatu), keduanya menjadi
rujukan dasar atas pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagai bidang, seperti
agama, ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya. Dari sini, jelaslah
bahwa peranan al-Qurán dan al-Hadits dengan segala keistimewaannya mampu
membangun peradaban baru yang lebih maju dan terus berkembang di tengah
masyarakat Arab khususnya dan seluruh umat manusia umumnya.[13]Hampir
semua pengamat baik dari Barat maupun orang Muslim Arab menganggap bahasa
al-Qurán sebagai bahasa yang memiliki standar ketinggian dan keelokan
linguistik tertinggi yang tiada taranya. Menurut Arsyad (2003 : 1-2)[14][1], hal itu berdampak pada munculnya superioritas Sastra dan Filsafat bahkan
pada Sains seperti Ilmu Matematika, Kedokteran, Ilmu Bumi, dan Tata Bahasa Arab
pada masa-masa kejayaan Islam dan setelahnya.
Dengan adanya ayat-ayat
al-Qurán, peradaban dan ilmu pengetahuan menjadi tumbuh dan berkembang.
Masyarakat Arab khususnya beralih dari makhluk yang menyembah batu menuju
masyarakat yang dapat mengatur dan memakmurkan bumi. Muhammad Ali al-Shabuni
(dalam Musgamy : 2014) menyatakan bahwa para pakar bahasa Arab, kalangan
linguis Arab dan ahli Ilm al-Bayan telah sepakat mengenai kemukjizatan
al-Qurán ada pada faktor al-Quránnya itu sendiri, yang terkandung pada:
1. Kefasihan
susunan kalimatnya;
2. Keindahan
maknanya;
3. Bentuk
sistematika bahasanya yang menakjubkan.
Musgami (2014) menuturkan,
disamping al-Qurán diturunkan
dengan membawa dua tujuanpokok, yaitu; pertama, al-Qurán merupakan mukjizat sebagai bukti
kebenaran apa saja yangdisampaikan Nabi Muhammad Saw; kedua,
al-Qurán sebagai
hidayah (petunjuk) demi kebaikan kehidupan manusia di dunia dankehidupan di
akhirat, al-Qurán juga merupakan mukjizat abadi yang dapat
membungkam para ahli balaghah yang hendak memadamkam cahaya Allah Swt, lewat syair-syair
mereka. Dimana
kebiasaan dan tradisi orang Arab pada saat itu selalu berlomba dalam bidang
syair. Hal semacam ini memicu perkembangan bahasa
Arab hingga sampai
kepuncaknya, sempurna dari segi perubahan kata-katanya,struktur
dan susunan gaya bahasanya. Disaat semacam inilah al-Qurán diturunkan, bukan hanya
sebagai bahasa wahyu yang menyatakan kebenaranNabi Muhammad Saw sebagai rasul
Allah, tapi juga sebagai bahasa yang unggul, jauhdi atas bahasa lainnya.
Tayar Yusuf (1997 : 188)
mengibaratkan Bahasa Arab dan al-Qurán
bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu
dengan yang lainnya, mempelajari bahasa Arab adalah syarat wajib untuk
menguasai isi al-Qurán dan mempelajari
bahasa Al-Qurán berarti mempelajari
bahasa Arab. Dengan demikian peranan al-Qurán
terhadap bahasa Arab di samping sebagai alat komunikasi ke sesama
manusia baik dalam dunia akademik maupun non akademik “Lingua Franca,”
juga sebagai alat komunikasi manusia dengan Allah, yang terwujud dalam bentuk
ibadah ghairu mahdhah dan sebagainya.
Disebut dalam Musgami
(2014), Diturunkannya al-Qur’an pada saat itu, tak lepas dari pengaruhnya
terhadap bahasa masyarakat Arab, yang timbul sebagai efek dari bahasa dasarnya
yaitu bahasa Arab yang memiliki kesamaan dasar dialek “Quraisy.” Di
antara pengaruhnya adalah:
1.
AlQur’an memperindah dan menghias lafadz bahasa
Arab.
2.
Muncul makna-makna baru
dalam lafadz bahasa Arab untuk mencocokkan danmemahamkan syariat Islam.
3. Terjaganya
bahasa Arab dari kepunahan, sebagaimana Alllah menjaga AlQur’an.“Sesungguhnya
kami (yang) menurunkan Dzikr dan kami pula yang menjaganya.” (Qs Al Hijr: 9). Bahasa Arab Fusha hari ini adalah bahasa yang sama
dengan bahasa Arab ketika al-Qur’an diturunkan. Tidak seperti bahasa kitab suci
agama lain yang sebagian besar bahasanya tidak bisa dipahami lagi oleh orang
orang zaman sekarang karena bahasa tersebut telah lama ditinggalkan dan hampir
punah.
4.
Tersebarnya bahasa Arab ke seluruh penjuru
dunia. Dimana saja dijumpai Islam,maka akan dijumpai bahasa Arab. Dan tidak
tersisa permukaan bumi ini kecuali telahsampai syiar Islam kepadanya.
5.
Bahasa al-Qur’an ini dikuatkan pula dengan kesatuan dialek, yaitu dialek Quraisy.
6.
Barulah dari bahasa Arab ini berkembang ilmu-ilmu diniyyah seperti Ilmu
Tafsiir , ‘Uluumul Hadiits , Fiqh , dan Ushul Fiqh .
7.
Dari bahasa Arab ini juga muncul ilmu-ilmu tentang kaidah bahasa Arab
seperti nahwu-sharf dan lain-lain.
Sedangkan Ali Abd Wafi
(2014 : 114) menjelaskan bahwa dengan turunnya al-Qurán, bahasa Arab menjadi
lebih kokoh sebagai bahasa yang fasih, berkembang lebih luas, menyebar ke
seluruh penjuru dunia, dan dengan izin Allah akan kekal abadi selama langit dan
bumi masih ada. Wafi juga mengatakan bahwa salah satu penyebab kuatnya posisi
bahasa Arab, karena bahasa al-Qurán
diturunkan dalam bahasa Arab. Sementara itu, Faiz al-Math (1995 : 47)
juga mengemukakan bahwa pengaruh al-Qurán
dalam bidang sastra adalah melatih bahasa mereka (Arab) dan menjadikan
satu bahasa meskipun tempat tinggal mereka berjauhan. Dengan mempelajari
kalimat dalam ayat-ayat al-Qurán , balaghah dan bayan-nya,
kualitas mereka semakin tinggi dan semakin disukai orang, sekalipun oleh musuh.
Keistimewaan yang dimiliki
oleh bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain disebabkan karena ia
berfungsi sebagai bahasa al-Qurán dan
al-Hadits, dimana keduanya merupakan sumber pokok ajaran Islam karena itu eksistensi
bahasa Arab sangat urgen untuk memahami al-Qurán dan al-Hadits Nabi Muhammad saw.
Mengenai al-Hadits (dalam Faiz al-Math : 1995 : 35), Allah SWT berbicara melalui lidah rasul-Nya, dengan bahasa yang cukup
jelas dan cukup bijak. Tidak ada seorang pun yang lebih fasihdari Nabi
Saw.Allah mengaruniainya cara-cara berbicara dan mengajarkannya
bahasa-bahasadan dialek-dialek bangsa Arab, padahal beliau sendiri belum
pernahbergaul dengan mereka seluruhnya. Hal ini karena Nabi Saw akan
dijadikan guru,
pembimbing, dan imam untuk semua umat manusia. Gaya bahasa Nabi Saw itu
ablagh (singkat, padat dan memikat).
Keindahannya menempati peringkat
keduasetelah Al-Qurán , keunggulannya tidak bisa ditandingi oleh gaya bahasa
pujanggaatau retorika orator ulung manapun. Kata-katanya jernih, indah dan
tenangsesuai dengan situasi dan kondisi sehingga enak didengar dan mudah
dicerna.
Faiz al-Math (1995 : 36) menuturkan
bahwa bahasa Nabi Saw berbeda dengan para penyair atau penulis (sebelum
kelahiran beliau), yang sering kali menuliskan karyanya dengan kalimat-kalimat
rancu dan dibuat-buat sehingga maknanya sulit dimengerti, yang untuk memahami
sebuah syair, mereka harus memeras otak atau dengan cara menghafalnya. Dengan
adanya al-Hadits, maka para penyair merujuk kepada ucapan Rasulullah (selain
al-Qurán ) sehingga syairnya tidak sulit untuk dipahami. Disamping itu, gaya
bahasa Nabi saw itu sederhana, dan dapat dimengerti oleh setiap orang. lbarat
pohon, gaya bahasa beliau itu buahnya, sedangkan gaya bahasa penyair dan ahli
balagah itu daunnya. Hal ini dijadikan dan dianggap al-Hadits dan al-Qurán sebagai sekolah tinggi bahasa dan sastra yang
dapat mendidik orang untuk menjadi penyair, penulis atau orator.
Wafi (2014 : 114)
menjelaskan bahwa ada dua pengaruh al-Hadits yang sangat signifikan terhadap
bahasa Arab yaitu :
1.
Memperkokoh posisi bahasa Quraisy
(bahasa Arab). Hal ini disebabkankarena turunnya al-Qurán dan datangnya al-Hadits dengan bahasa Quraisy. Keduanya merupakan penopang agama Islam yang dipegangi oleh
pembesar-pembesar kabilah Arab.
2.
Menata dan membangkitkan bahasa Arab kepada tingkat sastra yang lebih
tinggi. Pengaruh ini nampak dari berbagai segi bahasa baik dari segi tujuan,
makna, uslub maupun lafaldz-lafaldznya.
Dengan demikian bahasa
Arab setelah turunnya al-Qurán dan
datangnya al-Hadits menduduki posisi yang signifikan dalam kehidupan manusia
khususnya umat Islam karena terkandung di dalamnya sumber ajaran Islam. Jauh
sebelum Islam datang, bahasa Arab telah dikenal dan dipakai sebagai bahasa
komunikasi di kalangan bangsa Arab Makkah dan sekitarnya. William Beston (tt :
182) menuturkan, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, bahasa Arab telah dituturkan
oleh kurang lebih lima puluh juta orang di sebuah daerah yang luas sekitar
semenanjung Arabia dan menjadikan bahasa Arab Arab sebagai bahasa resmi mereka
Dari uraian di atas,
Dasuki (tt : 149) menuliskan adanya efek al-Qurán dan al-Hadits terhadap ahasa
Arab, yaitu:
1.
Menguatkan bahasa Quraisy: al-Qurán dan al-Hadits didatangkan dengan
bahasa Quraisy, yang mana keduanya merupakan sandaran agama Islam yang
dianut oleh kabilah-kabilah arab.
2.
Menjadi rujukan dan pemersatu bahasa serta
bangsa Arab yang sebelumna terdiri dari dialek-dialek yang beragam.kaena bahasa
Fushah merujuk kepada uslub Qur’ani yangakhirnya menjadi lingua franca (bahasa
pemersatu)
3.
Memelihara bahasa Arab, memperbaikinya dan membangun bahasa Arab supaya
lebih maju. Pengaruh tersebut jelas pada perbedaan yang mengarah pada bahasa,
yaitu pada bahasa tujuan, makna, susunan dalam teks al-Qurán dan al-Hadits
telah membuka pintu-pintu seni dalam bahasa Arab, misalnya dalam masalah hukum
dan perundang-undangan, kisah-kisah dan sejarah, peraturan agama, masalah
sosial, tatanan politik, bahkan bahasa Arab itu mencapai bidang matematika,
kimia, logika, filsafat, hukum, seni bahasa, pesan politik, mengendalikan
urusan negara dan ateisme. Terhadap kata dan makna efeknya sangat jelas.
Mengkhususkan lafaz-lafaz Arab dari makna yang umum sampai masalah ibadah,
urusan politik, administrasi dan perang atau istilah ilmu pengetahuan dan seni.
Berdasarkan rincian
pengaruh al-Qurán dan al-Hadits terhadap perkembangan bahasa Arab memberikan
penjelasan bahwa keduanya berkontribusi besar dalam mengevolusi atau bahkan
merevolusi tatanan komunikasi di tengah masyarakat Arab di masa shadrul
Islam utamanya sehingga terus berkembang di masa selanjutnya.
Al-Qur’an dan al-Hadits yang diajarkan oleh nabi muhammad
pada umatnya menggunakan bahasa arab. Di dalam keduanya terdapat petunjuk dan
pedoman bagi umat islam, jadi bahasa arab sudah selayaknya menjadi darah daging
bagi kalangan umat islam dikarenakan bahasa arab tidak bisa dilepaskan dalam
kehidupan sehari-hari seorang muslim. Dengan kata lain bahasa arab merupakan bahasa pemersatu
dalam agama isalam. Tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa mengerti
bahasa arab yang sudah menjadi ciri khas agama islam. Mulai dari ritual-ritual
dalam agama islam maupun sumber hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits
semua menggunakan bahasa arab.
Peranan
bahasa arab pada islam sangat erat kaitanya dengan diwahyukannya al-qur’an
kepada Muhammad. Al-qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dengan bahasa
arab ini sangat menakjubkan pemikiran manusia baik muslim maupun non muslim.
Hal ini dikarenakan bahasa al-Qur’an yang sangat khas dan unik yaitu pada
pengekspresian puitisnya yang mana manusia tidak ada yang bisa membuat sama
persis walaupun hanya satu ayat.
Islam
datang sebagai rahmatan lil ‘alamin tidak diragukan lagi, dalam kiprahnya
memajukan ilmu pengetahuan di dunia ini agama islam memiliki peranan yang
penting. Berangkat dari hadits nabi “menuntun ilmu wajib bagi setiap muslim
baik laki-laki maupun perempuan”. Dengan di dorong cinta akan keilmuan para cendikiawan
muslim mulai menerjemahkan ilmu pengetahuan dan ilsafat Yunani ke dalam bahasa
arab. Hal ini terjadi pada masa Kholifah Abbasiyah (132-656H/750-1258M) pada
masa ini sering dikenal dengan abad terjemah.
Disaat
barat dalam masa kegelapan dikarenakan gereja yang menganggap ilmu pengetahuan
dan filsafat berbahaya bagi agama kristiani islam muncul sebagai pemelihara dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan ilsafat Yunani. Bahasa arab dalam hal ini
mempunyai peranan yang besar dikarenakan semua teks-teks dari ilmu pengetahuan
dan filsafat Yunani disalin kedalam bahasa umut islam ini. Bahasa arab menjadi
bahasa yang tak terlepaskan dari ilmu pengetahuan dikarenakan
literatur-literatur ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di terjemahkan ke
dalam bahasa arab.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Dari pemaparan
singkat di atas maka penulis dapat membuat end blok sebagai esensi pembahasan
untuk dianalisa lebih lanjut. Yaitu
Bahasa Arab berasal dari bahasa Semit kemudian membentuk bahasa-bahasa
lain setelah terpisah dari induknya. Bahasa Semit mulai terpecah-pecah setelah
terpublikasi kedaerah-daerah lainnya seperti Babilonia, Assiriyah, Ibrani,
Aramiyah, Arab dan Etopiah. Mungkin karena proses evolusi yang sangat panjang
menjadikan bahasa itu berubah sedikit demi sedikit, tanpa dirasakan oleh
pemakainya. Dan ditepis oleh bahasa lain yang berinteraksi kemudian dijadikan
sebagai bahasa yang tersosialisasi.
Sebelum diturunkannya
Al-Qurán, bahasa di jazirah Arab masih berupa dialek-dialek, yangmana masyarakat
setiap daerah memiliki gaya tersendiri dalam bertutur kata (karena jaman dahulu
belum dikenal aksara baca-tulis). Diantara beberapa dialek yang muncul pada
masa itu, terdapat satu dialek yang paling dominan dan berpengaruh besar
terhadap kemajuan kebudayaan serta peradaban masyarakat Jazirah Abrab di jaman Jahiliyah. Dialek itu tidak lain disebut dialek Quraisy.
Dialek inilah yang selanjutnya menjadi induk dari bahasa Arab Fusha yang
Al-Qurán pun diturunkan menggunakan dialek Quraisy ini.
Diturunkannya al-Qurán dan
al-Hadits menggunakan bahasa Arab Quraisy, selain berfungsi sebagai lingua
franca (bahasa pemersatu), keduanya menjadi rujukan dasar atas pengembangan
ilmu pengetahuan dan berbagai bidang, seperti agama, ekonomi, politik, sosial,
budaya dan sebagainya. Dari sini, jelaslah bahwa peranan al-Qurán dan al-Hadits
dengan segala keistimewaannya mampu membangun peradaban baru yang lebih maju
dan terus berkembang di tengah masyarakat Arab khususnya dan seluruh umat
manusia umumnya.
Bahasa Arab sebagai
salah satu bahasa internasional, juga telah menjadi bahasa agama yang pada
gilirannya menjadi bahasa pemersatu bagi umat Islam dengan melalui proses yang
panjang. Bahasa Arab juga memiliki fungsi istimewa dari bahasa-bahasa lainnya,
bukan saja bahasa Arab memiliki nilai sastra bermutu tinggi bagi mereka yang
mengetahui dan mendalami, akan tetapi bahasa Arab ditakdirkan sebagai bahasa
al-Qur'an yakni mengkomunikasikan kalam Allah yang di dalamnya mengandung uslub
bahasa yang sungguh mengagumkan manusia. manusia tidak seorangpun mampu
menandinginya. Karena memang bahasa Arab ditakdirkan sebagai bahasa agama
bersumber dari kitab suci al-Qur'an.
2 SARAN
Muda-mudahan makalah ini dapat
merangsang para ilmuan linguisti, sejarahwan dan pemikir muslim untuk
bersama-sama memelihara kelestarian bahasa yang masih dalam posisi buritan
menuju posisi yang gemilang. Karena sebuah bencana sejarah bila suatu umat merasa
bahagia hidup dimasa lampau tetapi gagal berurusan dengan masalah kekinian.
Padahal umat Islan harus eksis kini dan di sini, dan bahagian nanti dan di
sana.
Daftar Pustaka
1. Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul
Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998),
2.
https://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab
3. Males Sutiasumarga, Kesustraan Arab Asal Mula Dan
Perkembangannya, Zikrul Hakim, Jakarta, 2000
4. Abdullah Abbas Nawawi, Learen the language of the holy Qur'an, diterjemahkan
oleh tim redaksi penerbit Mizan dengan judul, Belajar mudah bahasa Al-Qur'an,
(Cet. II; Kairo: Darul Marifah),
5. Khatibul Umam, et. all, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada
Perguruan Tinggi Agama IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem
Pendidikan Agama RI, 1975), h. 74
6. Harun Ar-Rasyid, Prospek Bahasa Arab masa kini dan masa yang
akan datang, Makalah Seminar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa
Arab (HMJ-PBA)
7. Wafi, Ali Abd. al- Wahid. Fiqhi al-Lughah Kairo: Dar
al-Nahda
8. Drs. H. Abdul Mu’in, M.A., Analisis Kontrastif Bahasa Arab &
Bahasa Indonesia, Pustaka Husna Baru, Jakarta, 2004
9. Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul
Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
12. Musgamy, Awaliyah. Jurnal al-Hikmah
Vol. XV Nomor 1/2014 (Pengaruh al-Qurán
dan al-HaditsTerhadap Bahasa Arab)
[1] Pendapat tersebut pertama kali dilontarkan oleh seorang ilmuan
Jerman yang bernama Schlozer pada akhir abad XVIII M. Lihat Jurji Zaidan, Tarikh
al-Lughah al-Arabiyah (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1977), h. 21
[2] Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul
Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
[3]https://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab
[4]Bahasa Ibrani merupakan rumpun bahasa Semit masih terpakai sebatas
pada bahasa kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Adapun bahasa
Ibrani yang digunakan di Israel adalah bahasa Ibrani Modern yang telah melalui
proses modifikasi dan serapan bahasa Eropa cukup dominan di dalamnya. Lihat
Mahmud Fahmi, Hijjas Madhal al-Ilmu al-Lughah, (Kairo, Darul Qiba'a
al-Riba'ah, 1948), h. 173
[5] Khatibul Umam, et. all, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada
Perguruan Tinggi Agama IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem
Pendidikan Agama RI, 1975), h. 74
[6] Philif K. Hitti, The Arab Short Historis, diterjemahkan
oleh Usuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing dengan Judul dunia Arab
(Cet. III; Bandung: Sumur Bandung, t. th), h. 7
[7] Harun
Ar-Rasyid, Prospek Bahasa Arab masa kini dan masa yang akan datang, Makalah
Seminar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (HMJ-PBA)
[8] Abdullah Abbas Nawawi, Learen the language of the holy Qur'an, diterjemahkan
oleh tim redaksi penerbit Mizan dengan judul, Belajar mudah bahasa Al-Qur'an,
(Cet. II; Kairo: Darul Marifah), h. 35
[9]Males
Sutiasumarga, Kesustraan Arab Asal Mula Dan Perkembangannya, Zikrul
Hakim, Jakarta, 2000, hal. 29.
[10] Drs. H. Abdul
Mu’in, M.A., Analisis Kontrastif Bahasa Arab & Bahasa Indonesia,
Pustaka Husna Baru, Jakarta, 2004, hal. 27
[12] Muhammad Sagena, Analisis Fiqh al-Lughah terhadap Asal Usul
Bahasa Arab (Penelitian IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 67
[14][1]Musgamy, Awaliyah. Jurnal al-Hikmah
Vol. XV Nomor 1/2014 (Pengaruh al-Qurán
dan al-HaditsTerhadap Bahasa Arab).http://www.uin-alauddin.ac.id/download-pages%20from%20jurnal%20al-hikmah%202014-5.pdf. (diunduh tanggal 28 oktober 2015
izin share bang. salam
BalasHapus